Logo
images

Dr.Yusuf Qaradhawi menjadi incaran para musuh Islam. (foto : ist)

Miris, Islam Di Tengah Serangan Para Musuh

POJOKNEWS.COM, Jakarta-- Dalam bukunya Prof. DR. Yusuf Al-Qardhawi dan Prof. Ahmad Al-Assal menyebutkan bahwa perang antara Islam dengan musuhnya merupakan hal kuno sekaligus baru, dan peperangan itu akan berlanjut selama kebenaran dan kebatilan masih eksis bertebaran

Menurut  mereka, musuh Islam terbagi dua kelompok,pertama penganut agama lain yang fanatik, terutama para orientalis dan misionaris yang merasa tergencet dengan tersebarnya Islam di berbagai pelosok benua, meski pendukung dan da’i (pendakwah) Islam kekurangan tenaga dan sarana. Kelompok kedua ialah orang-orang atheis materialistis.

Mereka  memusuhi semua agama,terutama terhadap Islam mereka sangat marah dan membencinya.Karena,mereka tahu bahwa Islam merupakan agama yang unik, membawa sistem  yang lengkap untuk kehidupan. Islam menyatukan antara ruh dan jasad,antara individu dan masyarakat, dan antara dunia dan akhirat.

Islam juga merupakan agama yang mampu memperlengkapi para pengikutnya dengan berbagai sarana kekuatan rohani dan semangat yang dapat mewujudkan suatu kekuatan besar untuk menghadapi pergulatan kehidupan.

Kedua kelompok musuh Islam tersebut tidak memiliki senjata selain memperalat berbagai fitnah dan cerita bohong tentang Allah,manusia,kebenaran dan sejarah. Belakangan ini banyak terlihat di antara cerita palsu ini yang dipublikasikan oleh kelompok komunis Irak yang dikenal dengan nama pamplet “ramadiyyah”.

“Kami menunggu sampai pamplet tersebut diterjemahkan dari bahasa Inggeris ke bahasa Arab, kemudian kami membacanya kata demi kata, kami tidak  menemukan di dalamnya selain kebohongan dan tipu daya murahan yang tidak dapat mempengaruhi orang awam apalagi para cendikiawan,”papar Dr.Yusuf Al-Qardhawi.

Mereka,lanjut Yusuf Al-Qardhawi mengklaim sesuai dengan terprestasi mereka terhadap sejarah,bahwa munculnya Islam adalah akibat dari berbagai faktor ekonomi dan sosial yang melanda semanjung Arab sebelum Islam,waktu itu pemujaan terhadap berhala mulai luntur,sementara tahannuf ( cenderung kepada tauhid) merupakan fenomena yang mencolok.

Mereka juga mengklaim bahwa Nabi Muhammad S.A.W bukanlah Rasul utusan Allah, dan Al-Qur’an bukan pula wahyu Allah.Karena Allah itu sendiri tidak ada menurut persepsi mereka.

Mereka mencurigai keaslian Al-Qur’an , dan mengklaim banyak lagi Al-Qur’an lain yang dikarang untuk menandinginya. Selain itu,mereka juga mengatakan bahwa Al-Qur’an bertentangan dengan ilmu pengetahuan , dan memberitakan hal-hal yang tidak pernah terbukti sampai sekarang,seperti terjadinya kiamat dalam waktu dekat.

Mereka memperalat pendapat (pertikaian) para ulama tentang ayat-ayat mutasyabihat yang terdapat dalam Al-Qur’an, hal itu untuk meragukan umat Islam tentang kejernihan dan kemurnian Al-Qur’an.

Mereka menggembargemborkan fitnahan para orientalis terhadap nilai ilmiah dan sejarah Hadits Nabi S.A.W,sementara itu para cendikiawan Islam sangat menghormati Hadits tersebut. Tentang aqidah tersebut merupakan aqidah determinisme absolut, dalam Islam manusia tidak merdeka dan tidak mempunyai pilihan.

Mereka menganggap sholat ciptaan dari sebagian agama-agama masa lalu, dan orang-orang Islam melakukan ibadah haji kepada batu di Makkah. Mereka menuduh fiqih Islam muncul di masa Dinasti ‘Abbasiyah untuk mendukung berbagai kebijaksanaan khalifah (raja).

Mereka mengklaim bahwa Islam mendukung sistem feodal dan borjuasi, serta mengakui perbedaan kasta yang mengakibatkan sebagian orang memperbudak sebagian yang lain. Selain itu, menurut mereka Islam mengukuhkan sistem perbudakan dan meghormati para pemilik  budak.

Mereka juga mengklaim bahwa khalifah atau kepala negara dalam Islam adalah wakil Tuhan,seluruh rakyat harus mengabdi kepada khalifah.

Mereka membesar-besarkan kebohongan tentang kondisi wanita dalam Islam,seperti penindasan kaum pria terhadap wanita. Mereka memfitnah kebijaksanaan Islam dalam peperangan  dan penaklukan.

“Perbedaan antara kita dengan mereka adalah perbedaan pokok dan prinsip. Karena itu, dalam jawaban kita terhadap fitnah dan kebohongan tersebut pertama-tama harus dikemukan beberapa bukti atas kebenaran iman dengan wujud Allah dan kebenaran kenabian. Bila kedua hal pokok ini dapat ditanamkan maka dengan mudah dapat pula dibuktikan kenabian dan kerasulan Muhammad S.A.W, dan Al-Qur’an betul-betul kitab Allah,” tegas Dr.Yusuf Al Qardhawi. (samar)


TAG , ,

Dipost Oleh Jhon Pantau

Jhon Pantau adalah Super Admin dari pojoknews.com Dengan ideologi kebangsaan, Jhon Pantau berniat menyajikan berita dibalik fakta.

Tinggalkan Komentar